Danau-Tempe-31

Danau Tempe Tappareng Karaja yang Kian Mendangkal

Untitled-51 copy

Menelusuri Kelurusan Pulau-pulau Menuju Anakkrakatau

13/08/2015 Comments (0) Langlang Bumi

Baluran Tempat Tinggi di Ujung Timur Pulau Jawa

Baluran Tempat Tinggi-24
Baluran Tempat Tinggi-24

Baluran Tempat Tinggi di Ujung Timur Pulau Jawa

Subuh di langit Baluran, bintang-gemintang menyinarkan simbol-simbol irama semesta. Taman nasional itu belum terang, tapi tidak terlalu gelap. Udara tak bertiup subuh itu, pucuk-pucuk pohon diam tak bergerak walau sedikit. Suara binatang terdengar riang bersahutan. Banyak suara binatang yang asing di telinga, tapi dalam sekian banyak suara itu ada harmoni. Suara burung yang cerewet, suara rusa yang memekik, lenguh kerbau liar yang bergerombol, dan suara ayam hutan paling nyaring dari semua suara yang datang dari sabana

Pagi yang lembab Sabana Bekol menjelang. Nama sabana yang berada persis di depan penginapan di Bekol ini diambil dari nama pohon widuri bekol (Zyziphus rotundifolia), pohon yang sangat khas di hamparan padang rumput. Di sisi sabana yang berbatasan dengan hutan, terlihat kerbau liar (Bubalus bubalis) berkelompok, merumput. Rusa (Cervus timorensis) memandang curiga ketika ada suara-suara yang sekiranya mengancam. Kubangan-kubangan kecil dalam lintasan kerbau di sabana ini mulai ada yang mengering. Burung merak yang terusik, terbang menuju pohon yang rimbun. Keriangan pagi di padang sabana ini begitu kuat terasa. Semua penghuninya bergerak menyambut pagi.

Baluran Tempat Tinggi-25

Jalan menuju Pantai Bama. Foto: Budi Brahmantyo

Walau masih ada hujan di bulan Juni, namun, Sabana Bekol sudah mengering. Secara keseluruhan warnanya sudah berubah menjadi warna gading, tetapi masih tersisa rumput yang hijau di sela-selanya. Kawanan kerbau liar dan rusa masih merumput di sana.

“Sabana di Taman Nasional (TN) Baluran itu kenampakannya berlainan sesuai dengan musim. Bila menginginkan suasana kering, datanglah pada musim kemarau. Tapi bila menginginkan suasana yang hijau, datanglah pada musim penghujan,” Begitu penjelasan Ezen Badruzaman, yang akrab dipanggil Pak Ezen, seorang polisi hutan TN Baluran. Secara umum, pada bulan April sampai Oktober terjadi musim kemarau, dan pada akhir Oktober sampai awal April terjadi musim hujan. Dengan temperatur antara 27,2 – 30,9° C.

Di Bawah Naungan Baluran

Kemeriahan pagi itu dinaungi Gunung Baluran, yang menjadi latar bentang alam sabana di TN Baluran yang sering dijuluki Afrika kecil di Pulau Jawa. Itulah daerah tertinggi di tengah-tengah TN Baluran. Dari berbagai arah, terlihat hamparan lahan datar yang luas, yang terus meninggi ke arah gunung. Dari arah Selat Bali, bentang  alamnya landai mulai dari pantai, lalu menanjak, mencuat tinggi di Gunung Baluran. Sangat mungkin, karena alasan rona buminya, ada gunung yang terlihat mencuat dari berbagai sisinya, sehingga gunung ini dinamai Baluran.

Pada mulanya nama geografi Baluran hanya untuk menamai gunung yang areanya jauh lebih tinggi daripada kawasan di sekitarnya. Ba-lur-an, secara bahasa, dapat diartikan sebagai “tempat yang tinggi”. Namun dalam perkembangannya, baluran dipakai untuk menyebut kawasan yang lebih luas lagi, seperti TN Baluran, yang kawasannya bukan hanya tempat tinggi Gunung Baluran (1.247 m dpl.) yang berbatu dengan rona bumi berlereng curam, melainkan sampai batas terluarnya pada ketinggian 0 m dpl. di daerah pantai.

Baluran Tempat Tinggi-26

Panorama Gunung Baluran dari Bekol. Foto: Deni Sugandi

TN Baluran yang luas keseluruhannya 25.000 hektare itu berada di ujung timur Pulau Jawa, secara geografis terletak antara 7°45’ – 7°15’ Lintang Selatan, dan antara 114°18’ – 114°27’ Bujur Timur. Di sebelah utara, TN Baluran berbatasan dengan Selat Madura, sebelah barat dengan Kali Bajulmati, sebelah timur dengan Selat Bali, dan sebelah barat laut berbatasan dengan Kali Klokoran.

Rona bumi taman nasional yang terletak di Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur ini, mulai dari yang datar dengan ketinggian 0 – 124 m dpl, bergelombang dengan ketinggian 125 – 900 m dpl, dan terjal pada ketinggian lebih dari 900 m dpl. Pada garis pantai di Mesigit, Balanan, dan Montor, terdapat hamparan batukarang yang terjal. Sedangkan di sebelah selatan dan barat, rona buminya bergelombang.

Berdasar pada rona buminya, ekosistem sabana di TN Baluran dibedakan menjadi sabana datar dengan tanah endapan, berada di dataran rendah sepanjang pantainya yang menutupi daerah Pandean, Tanjung Sedano, Tanjung Sumberbatok, dan Tanjung Lumut; dan sabana datar sampai bergelombang dengan tanah berwarna hitam dan berbatu. Batas terluarnya berupa dataran pasir sepanjang hutan mangrove.

Tanahnya berasal dari bahan letusan gunung api yang subur dan kaya mineral, sehingga setengah luas dataran rendahnya berupa tanah hitam yang liat namun tidak mampu menyimpan air, serta bersifat kembang susut yang tinggi dan merekah pada musim kemarau. Kawasan inilah yang ditumbuhi rumput membentuk sabana.

Kekhasan TN Baluran karena memiliki sabana alami yang luas, sekitar 10.000 Ha, yang terdiri dari sabana datar seluas 1.500 – 2.000 Ha yang terdapat di bagian tenggara, yaitu Sabana Bekol dan Semiang, serta luas sabana datar sampai bergelombang seluas 8.000 Ha, yaitu: Sabana Balanan, Kramat, Talpat, Labuhanmerak, Airtawar, dan Karangtekok.

Baluran Tempat Tinggi-27

Pohon akasia dan bongkah-bongkah lava. Foto Deni Sugandi

Di Sabana Bekol, juga di tempat lainnya, tersebar bongkah-bongkah batu berongga di mana-mana. Itulah bom gunung api yang rata-rata sebesar pepaya. Bongkah batu itu berasal dari lontaran-lontaran saat Gunung api Baluran meletus pada masa lalu. Gunung api purba ini pernah meletus beberapa periode letusan dengan bukaan letusan ke arah timur laut. Bahan-bahan dari letusan gunung api purba ini membentuk keadaan bentang lahan kawasan di sekelilingnya, bahkan, bahan vulkanik tua itu cukup mendominasi seluruh kawasan.

Di TN Baluran terdapat dua sungai, yaitu Kali Bajulmati dan Kali Klokoran yang bermuara di pantai utara dan timur Pulau Jawa. Mata air bermunculan di pantai, seperti di Kelor, Popongan, Bama, Mesigit, dan di kaki bukit Talpat. Mata air juga terdapat di ujung pantai, yaitu di Teluk Airtawar, dan di laut sebagaimana terdapat di Tanjung Sedano. Mata air ini sesungguhnya dapat dimanfaatkan untuk pasokan air ke sabana, terutama saat musim kemarau.

Petang di sekitar Sabana Bekol, gerombolan rusa yang sedang merumput di bawah pepohonan, memandang penuh curiga saat wisatawan memotretnya. Demikian juga rombongan kerbau liar yang melintas sabana untuk “pulang” sambil merumput, berdiri siaga ketika ada yang sedikit mendekat untuk memotret. Lenguh kerbau liar yang saling menimpali, mengabarkan adanya ancaman. Dari jalan berbatu yang membelah sabana antara Resort Bekol dan Resort Bama, wisatawan asyik merekam peralihan dari petang ke malam. Pohon-pohon dan Gunung Baluran tampak membayang hitam dengan latar langit yang jingga keabuan.

Akasia Bersimaharajalela

Berjalan menuju penginapan di Bekol diiringi suara burung yang nyaring di ranting-ranting pohon dan di dalam kehangatan rumput kering di hamparan sabana. Tak terbayangkan bila padang rumput ini semakin menciut luasnya karena perkembangbiakan akasia berduri (Acacia nilotica) yang sangat cepat. Sabana ini merupakan habitat utama bagi mamalia besar seperti banteng, kerbau liar, dan rusa. Dapat diduga, bila luasnya menyempit, maka pakan dan daerah jelajah mamalia itu pun semakin berkurang.

Permasalahan akasia berduri yang mengalahkan padang rumput ini akan tampak jelas bila kita berdiri di atas Watunumpuk di kawasan Karangte

Baluran Tempat Tinggi-28

Rusa di Baluran. Foto: Deni Sugandi.

kok, sisi barat laut TN Baluran. Dari atas batu yang bertumpuk ini, akan terlihat nyata, bagaimana akasia berduri sudah sangat luas mengambil alih sabana. Sabana yang semula berupa ekosistem terbuka yang didominasi rumput-rumputan, kini menjadi areal yang ditumbuhi akasia berduri dengan pertumbuhan yang sangat cepat, sehingga menjadi sangat rapat membentuk kanopi.

Awal merajalelanya akasia ini bermula dari sabana di kawasan konservasi ini sering terbakar ketika musim kemarau, yang apinya merembet ke kawasan hutan musim. Bekas hutan yang terbakar kemudian berubah menjadi sabana. Niatnya baik, untuk mencegah meluasnya kebakaran Sabana Bekol ke hutan musim yang ada di sekitarnya, maka pada tahun 1969 ditanamlah akasia berduri (Acacia nilotica) (L.) Willd. ex. Del., sebagai tanaman sekat bakar sepanjang 1,2 km dengan lebar 8 m.

Namun, niat baik itu kini menjadi petaka yang mengerikan, karena pertumbuhan akasia di kawasan sabana sangat pesat. Keadaan Sabana Bekol seluas 420 Ha saat ini juga tidak menggembirakan. Di padang rumput ini banyak anakan akasia berduri yang tingginya antara 25-50 cm. Di sekeliling sabana yang terbuka, sekitar 270 Ha lainnya, telah ditumbuhi akasia berduri yang berumur antara 2 – 4 tahun, yang tingginya antara 2,5 – 6,5 m

Bila dibandingkan dengan luas sabana alami di TN Baluran yaitu sekitar 10.000 Ha, dengan tingkat pertumbuhan akasia berduri yang mencapai 100 – 200 Ha per tahun, akasia berduri ini sudah mengambil alih sekitar 50% dari luas sabana, atau sekitar 5.000 Ha. Akasia berduri telah tersebar di hampir seluruh sabana yang ada di kawasan TN Baluran, seperti di sabana Bekol, Kramat, Kajang, Balanan, Lempuyang, Dadap, Asam Sabuk, Curah  Udang, Widuri, dan Merak. Bahkan di Sabana Kramat, Kajang, dan Balanan, akasia berduri ini telah membentuk kanopi yang tertutup.

Suara bel logam yang tergantung di le

Baluran Tempat Tinggi-29

Kerbau liar. Foto: Deni Sugandi.

her sapi itu berdentang-dentang. Di kawasan Karangtekok dan kawasan TN Baluran utara, setiap harinya terdapat sekitar 1.600 ekor sapi dan 400 ekor domba/kambing yang digembalakan. Kawanan ternak yang digembalakan liar itu terus bergerak di bawah kanopi akasia berduri yang sudah rapat. Bila kawanan sapi dan kambing itu juga memakan polong akasia berduri, maka pertumbuhan akasia berduri ini semakin dipercepat.

Secara alami, tanah, iklim di kawasan TN Baluran sesuai untuk pertumbuhan Acacia nilotica, sehingga sangat berpengaruh terhadap percepatan tumbuh dan penyebaran tanaman ini. Selain itu, kondisi padang rumput atau sabana juga mempercepat pertumbuhan Acacia nilotica, karena menyediakan cahaya matahari yang cukup untuk perkecambahan flora tersebut.

Penyebaran biji akasia berduri semakin meluas karena terbantu oleh satwa herbivora yang memakan daun dan biji akasia berduri seperti banteng (Bos javanicus), kerbau liar (Bubalus bubalis), rusa timor (Cervus timorensis), kijang (Muntiacus muntjak), dan babi hutan (Serpus sp.). Satwa-satwa tersebut akan membuang kotorannya di berbagai tempat, dan biji akasia berduri yang terbawa bersama kotoran itu akan tumbuh sehingga tersebar ke seluruh kawasan.

Pada puncak musim kemarau dan musim masak buah, herbivora besar memakan polong akasia berduri. Polong akasia berduri yang mempunyai kandungan karbohidrat dan protein yang tinggi itu lalu dimakan banteng, kerbau liar, dan rusa. Biji yang tidak tercerna akan mengalami penggosokan dan kondisi asam di dalam lambung selama 12 – 48 jam, lalu kotorannya tersebar ke lokasi lain sesuai dengan daya jelajah satwa tersebut. Biji yang terbawa dalam kotoran itu akan tetap lembab, dan kotoran itu berfungsi sebagai pupuk, yang memungkinkan biji tersebut berkecambah segera setelah turun hujan. Ratusan, bahkan ribuan biji yang keluar bersama dengan kotoran itu di berbagai tempat akan menjadi area serbuan baru dari akasia berduri di TN Baluran.

Di samping penyebaran melalui kotoran satwa, penyebaran akasia berduri juga terjadi pada musim hujan karena jelajah hewan-hewan di TN Baluran itu. Pada musim hujan, biji akasia berduri yang bercampur dengan lumpur menempel pada kaki dan badan satwa-satwa itu kemudian terbawa dan jatuh di tempat lain.

Baluran Tempat Tinggi-30

Banteng, hewan khas Taman Nasional Baluran. Foto: Budi Brahmantyo

Akasia berduri telah mendesak sabana, mendesak pertumbuhan rumput, sehingga ketersediaan makanan bagi herbivora di TN Baluran menjadi tidak memadai lagi. Karena asupan pakan, yaitu rumput sebagai sumber makanan utamanya yang sudah tidak mencukupi, maka satwa akan mencari pakan alternatif, salah satunya adalah daun dan biji akasia berduri. Di sinilah lingkaran setan serangan pendudukan wilayah TN Baluran oleh akasia berduri terjadi.

Akibat ekosistem sabana yang berubah menjadi hutan akasia berduri yang sangat rapat adalah kematian rumput sebagai pakan utama satwa. Selain itu, karena akasia ini merupakan tumbuhan yang berduri, maka penyebarannya yang luas akan mengganggu daya jelajah satwa liar. Kenyataan ini mengakibatkan terganggunya keseimbangan ekosistem TN Baluran. Dengan berkurang pakan utama berupa rumput, keberadaan satwa herbivora di kawasan itu terancam. Kondisi sabana yang ada di TN Baluran saat ini sedang dalam kondisi yang mengkhawatirkan.

Bercermin dari Baluran

TN Baluran dengan unggulan utama sabana dan Banteng Jawa (Bos javanicus), kini sedang mengalami masalah berat dengan adanya invasi akasia berduri. Banteng dapat hidup di daerah dengan ketinggian sampai 2.000 m dpl. Daerah yang disukainya bertopografi datar sampai sedikit bergelombang. Semula, Baluran sangat ideal bagi tumbuh kembang banteng dan satwa lainnya, karena di sana terdapat hutan alam primer tempat banteng berlindung dari serangan predator, sebagai tempat beristirahat, tempat tidur, dan tempat berkembang biak.

Di Baluran terdapat sabana, bukan saja di pedataran, tapi juga terdapat di daerah yang berbukit. Dengan kondisi hutannya yang terjaga, di sana terdapat sumber air, yang memberikan pasokan air ke padang rumput. Di sana pun terdapat hutan pantai sebagai tempat berlindung dan beristirahat. Dan, Baluran berdekatan dengan laut, yang berperan penting untuk memenuhi kebutuhan mineral.

Baluran Tempat Tinggi-31

Pohon Bekol. Foto: Deni Sugandi.

Apa yang menjadi unggulan itu kini populasinya sangat mengkhawatirkan, sehingga rawan terhadap kepunahan, seperti yang sudah terjadi di Leuweung Sancang, Kabupaten Garut. Untuk menjawab tantangan itu, saat ini di TN Baluran diadakan upaya penangkaran semi alami. Upaya ini harus mendapat dukungan dari semua pihak, termasuk dari para wisatawan. Jangan bernafsu untuk mengabadikan banteng yang sedang ditangkar, apalagi bila banteng sedang berada dalam masa birahi. Bila masa itu terganggu dengan kehadiran manusia, maka birahinya akan tertangguhkan. Bila penangkaran semi alami itu berhasil, maka akan ada pelepasliaran banteng-banteng, dan ini akan memberikan harapan baru.

TN Baluran adalah cermin. Di Baluran saat ini, terasa dan terbukti, dengan memasukkan tanaman asing ke dalam kawasan konservasi, telah terjadi gangguan mata rantai ekologi yang berdampak fatal. Dalam kehidupan sosial, dalam bidang pendidikan, misalnya, sangat mungkin masuk kebjikan yang asing, yang tidak sesuai secara sosial-budaya masyarakat Indonesia pada umumnya. Sebenarnya, kebijakan itu berdampak fatal, tetapi dampaknya tidak terlihat seperti akasia berduri di Baluran.

Dari tempat tinggi dan lingkungan sekitarnya di ujung Timur Pulau Jawa, kita belajar hubungan geologi dengan ekosistem yang khas, TN Baluran. Dari invasi akasia berduri di kawasan konservasi Baluran, kita pun belajar untuk arif dalam memungut sesuatu yang berasal dari luar. (T. Bachtiar)

Penulis adalah anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>