tsunami

Tsunami Gelombang Pembunuh Buku bacaan tsunami untuk remaja

Migas dan Energi di Indonesia

Wasiat Sang Begawan Migas Pendaki Gunung

07/03/2012 Comments (0) Resensi Buku

Album Harmoni Keragaman Kars

Bentang Alam Kars Indonesia

Bentang Alam Kars IndonesiaTim penulis yang juga para ahli geologi mengandalkan kekuatan buku ini pada keindahan bahasa visual. Melalui 178 buah foto yang juga dibuat oleh para ahli geologi dan geografi menghadiahi pembaca dengan keunikan dan keberagaman bentang alam kawasan kars yang luar biasa indahnya di setiap jengkal Nusantara. Pembaca seakan memasuki lorong waktu perjalanan geologi yang telah berlangsung sejak Zaman Silur-Devon  (sekitar 440 juta tahun lalu) hingga sekarang.

Deskripsi ringkas diberikan di setiap halaman. Namun demikian beberapa istilah geologi terkadang tidak mudah dipahami oleh pembaca awam. Misalnya penggunaan skala waktu geologi, struktur geologi, dan proses-proses geologi. Kecuali bagi pembaca awam yang sangat penasaran untuk menuntaskan keingintahuan dengan rajin meng-google setiap istilah. Melalui foto-foto yang sangat bagus, pembaca seakan diajak untuk mengamati “catatan” perjalanan geologi yang terpatri antara lain: dalam proses pengangkatan lipatan kulit bumi, jejak proses karstifikasi pada gamping, struktur geologi kekar dan sesar, proses deformasi yang kuat pada batu gamping, dan lain sebagainya.

Tim penulis menunjukkan beraneka ragam kawasan kars dengan berbagai keunikannya masingmasing. Seperti di kawasan kars Citatah, bagaimana mungkin bukit karang atau batugamping yang biasa terdapat dipantai, bisa berada di ketinggian 750 m dpl? Kawasan ini menjadi bukti bahwa 25 juta tahun lalu wilayah Padalarang pernah digenangi laut. Di Gua Pawon Citatah, ditemukan kerangka manusia prasejarah (Ki Sunda) yang pertama di Jawa Barat berumur 9500 tahun lalu. Sekitar 29 buah foto memanjakan pembaca dengan keanekaragaman bentuk bukit, taman batu, stalaktit dan stalagmit, hingga sungai bawah tanah “Sanghyangtikoro” yang pernah dianggap sebagai sumber bocornya danau Bandung Purba.

Sekitar 35 buData Buku Album Karsah foto memperlihatkan Kawasan Kars Gombong Selatan dan Kawasan Kars Gunung Sewu. Kawasan Kars Gombong Selatan terkenal dengan ratusan gua yang diisi oleh berbagai atraksi stalaktit dan stalagmit bagai diorama kehidupan yang penuh warna dan bentuk. Bahkan masyarakat kars dunia menggagas agar sumber daya alam yang luar biasa ini dijadikan salah satu warisan dunia. Karena keindahan gua-gua di kawasan ini berperingkat dunia, serta memiliki pesona kars bawah permukaan yang sangat menarik.

Kawasan Kars Gunung Sewu memanjang 120 km yang dibentuk oleh 40.000 bukit gamping. Di satu kawasan yang dikenal dengan nama “Song Terus” ditemukan rangka manusia prasejarah berumur 10.000 tahun. Bahkan ditemukan artefak peninggalan manusia prasejarah Zaman Paleolitikum berupa mata panah, atau kapak yang umumnya terbuat dari batugamping rijangan.

Apakah dengan ditemukannya artefak di kawasan kars ini menjadi tanda keberadaan manusia purba Homo erectus yang diperkirakan pernah hidup 1 juta tahun lampau di Kawasan Kars Gunung Sewu? Pembaca yang tertarik dan penasaran bisa melakukan kajian lebih jauh fakta menarik ini. Buku ini juga memperlihatkan bagaimana daerah Kalimantan Timur menyajikan atraksi ratusan kerucut gamping yang menyembul dari balik hutan lebat bagaikan mata gergaji. Kawasan Kars di segmen Marang memiliki 17 gua dari 25 gua yang merekam budaya prasejarah, berupa lukisan pada dinding dan atap, berumur 15.000 tahun hingga 8.000 tahun yang lalu. Lukisan-lukisan gua yang didominasi oleh gambar telapak tangan tersebut diakui sebagai warisan dunia. Untuk mengungkapkan lebih detil lagi, tentu saja diperlukan interpretasi dari ahli sejarah.

Keragaman lainnya adalah kawasan kars di Sulawesi Selatan. Terbentang batuan karbonat yang tumbuh di atas sedimen klastik dan ditindih oleh batuan vulkanik. Setelah batugamping terangkat ke permukaan laut terjadi proses karstifikasi membentuk morfologi kars. Pengaruh struktur geologi membentuk bentang alam bukit-bukit berlereng terjal, sebagian saling terpisah. Kenampakan yang mirip menara gedung pencakar, memang pantas diberi sebutan “kars tipe menara”. Di dalam gua kawasan kars ini pun terdapat bukti-bukti peninggalan manusia prasejarah.

Parade foto memperlihatkan keunikan kawasan kars di wilayah Sulawesi Tenggara. Misalnya pembentukan travertin karena perbedaan pada sistem hidrologi yang membangunnya, bersifat panas, dan berasa asin. Masih di Sulawesi Tenggara, gua kars di Pulau Muna merekam kehidupan prasejarah yang menakjubkan. Lukisan pada dinding dan langit-langit gua bergambar perahu tampak dominan. Boleh jadi sejak dulu nenek moyang suku-suku di tanah Sulawesi adalah orang pelaut.

Terdapat foto lukisan purbakala ‘orang bermain layang-layang’ berumur antara 4000-5000 tahun yang lalu. Boleh jadi, layang-layang pertama di dunia berasal dari Pulau Muna Indonesia dan membuyarkan kepercayaan bahwa pada awalnya layang-layang ditemukan di daratan Cina. Kejutan lain dari buku ini adalah atraksi kars yang tiada duanya di Bumi Papua. Kawasan kars dengan derajat karstifikasi yang berbeda di setiap segmen wilayah mendominasi sepanjang 1300 km dengan lebar 80-120 km. Di kawasan ini tersingkap batu dolomit yang berumur Silur-Devon (sekitar 440 juta tahun), dan menjadi batuan karbonat tertua dan tertinggi di Indonesia.

Proses dinamika bumi di Kawasan Lorentz telah mengangkat batugamping yang sebelumnya terbentuk di dasar laut menjadi pegunungan dengan ketinggian lebih dari 4500 m dpl. Karena ketinggiannya telah melebihi garis salju di daerah ekuator, maka sebagian permukaan batugamping tertutup salju atau gletser. Puncak Jayawijaya (4884 m dpl) menjadi tempat tertinggi di wilayah Pasifik Barat. Sungai-sungai permukaan yang memotong gawir struktur (lereng lurus) akan membentuk air terjun. Tingginya beragam, rata-rata lebih dari 50 m.

Jika ingin meraih target pembaca yang lebih luas, mungkin ada baiknya buku ini dilengkapi dengan lampiran keterangan istilah-istilah geologi yang digunakan dan lampiran skala waktu geologi. Penggunaan dua bahasa sangat membantu sehingga buku ini bisa menjadi referensi bagi bangsa lain.

Akhir kata, buku ini bisa menambah rasa syukur kita kepada Sang Maha Pencipta. Mensyukuri hidup di negara yang memiliki laboratorium kekayaan alam yang luar biasa indahnya. Semoga semangat nasionalisme, kecintaan, kebanggaan, dan keinginan untuk belajar mengenal alam tumbuh kuat dari setiap pembaca.

Peresensi: Yanti Herawati, fasilitator di Homeschooling Pusat Bumi dan pengelola trekking ITB ‘89.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>