subak air mengalir

Subak Air Mengalir Terbagi Rata

lava gunung batur

Lava Gunung Batur

03/12/2012 Comments (0) Artikel Geologi Populer

Aktivitas Gunung Batur

aktivitas gunung batur

 

Gunung Batur yang memiliki ketinggian 1.717 m dpl, berada pada posisi geografi 8o 14,30’ Lintang Selatan dan 115o 22,30’ Bujur Timur masuk dalam wilayah Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.

aktivitas gunung batur

Dua letusan yang berlangsung pada 7 Agustus 1994, malam dan siang. Letusan ini berlangsung dari titik baru yang dikenal dengan Kawah 94. Foto: SR. Wittiri

Kaldera Batur adalah sisa gunung api yang sangat besar. Sebagian tubuh gunung itu ambruk akibat letusan dahsyat, sehingga terbentuk kawah sangat besar yang disebut kaldera. Pembentukan kaldera terjadi dua kali. Tidak mengherankan apabila saat ini dapat disaksikan betapa luasnya hamparan kawah
raksasa ini. Pada proses selanjutnya, di sisi timur – tenggara lantai kaldera terbentuk danau setengah lingkaran seperti bulan sabit yang dikenal dengan Danau Batur. Menurut K. Kusumadinata (1979) dalam Data Dasar Gunungapi Indonesia, panjang danau ini lebih kurang 7,5 km, lebar maksimum 2,5 km, keliling 22 km, dan luasnya 16 km2.

Sejarah Geologi
Apabila direkonstruksi berdasarkan sisa lereng yang ada, misalnya Gunung Sukawana dan Gunung Abang, sebelum pembentukan kaldera, Batur Purba adalah gunung yang sangat besar dan tinggi. Gunung api ini bahkan diperkirakan jauh lebih tinggi dibanding Gunung Agung. (Kemmerling, 1918, dan Igan S. Sutawidjaja, 1992).

Pembentukan kaldera terjadi dalam dua masa yang berbeda. Kaldera pertama atau kaldera luar berukuran 13,8 x 10 km dengan pematang kaldera
mencapai titik tertinggi 2.152 m dpl. Kaldera kedua atau kaldera dalam terbentuk di dalam kaldera pertama dengan garis tengah 7 km. Dasar kaldera kedua lebih rendah 300 m dibanding dengan kaldera pertama yang dikenal dengan Undak Kintamani. Di lantai kaldera sebelah timur dan tenggara terbentuk sebuah danau berbentuk bulan sabit seluas 16 km2.

Menurut Kemmerling, 1918 dalam Kusumadinata (1979), dan Igan S. Sutawidjaja (1992) pembentukan Gunung Batur yang ada sekarang melalui empat tahap, yaitu pertama, terbentuknya Gunung Batur Purba yang berupa kerucut runcing.

aktivitas gunung batur

Dua letusan yang berlangsung pada 7 Agustus 1994, malam dan siang. Letusan ini berlangsung dari titik baru yang dikenal dengan Kawah 94. Foto: SR. Wittiri

Kedua, terjadinya letusan dahsyat yang menyebabkan sebagian kerucut Batur Purba hilang. Pada tahap ini terbentuk kaldera pertama (kaldera luar) yang terjadi pada 29.300 tahun yang lalu. Salah satu sisanya adalah Undak Kintamani. Ketiga, terbentuknya gunung api baru yang tumbuh agak menyimpang dari pipa kawah lama, antara lain Gunung Abang di timur, Bukit Payang di barat daya, dan Gunung Bunbulan di bagian timur laut.

Keempat, terjadinya letusan dahsyat yang mengakibatkan setengah tubuh Gunung Abang dan sebagian dasar kaldera pertama hancur menghasilkan kaldera kedua (kaldera dalam) yang dibatasi oleh Undak Kintamani dan Gunung Abang. Tebingnya berbentuk lingkaran (ringwal) di antara Kedisan dan Songan. Tahap ini terjadi pada 20.150 tahun yang lalu. Setelahnya tumbuh gunung api baru di dasar kaldera kedua, yaitu Gunung Batur sekarang.

Sejarah Letusan
Karakteristik letusan Gunung Batur umumnya berupa letusan tipe semivulkan yang berakhir dengan stromboli dan aliran lava. Rangkaian letusan biasanya berlangsung beberapa bulan. Dalam perkembangan selanjutnya terbentuk beberapa kawah yang menjadi ajang berlangsungnya letusan Gunung Batur.

aktivitas gunung batur

Sketsa posisi kawah Gunung Batur

Berdasarkan catatan sejarah, letusan pertama Gunung Batur dimulai pada 1804. Ketika itu terbentuk kawah utama di puncak. Tujuh belas tahun kemudian, pada 1821, berlangsung letusan kedua dari kawah yang sama. Pada 1849 terjadi letusan dari kawah utama dan menghasilkan aliran lava ke arah selatan hingga ke tepi danau. Pada tanggal 30 – 31 Mei 1888, terjadi letusan celah pada lereng tenggara disertai leleran lava ke arah tenggara sampai ke tepi danau, dan pada 1897, terjadi letusan normal dari kawah utama.

Memasuki abad ke 20, pada 1904 terjadi letusan parasit di sebelah barat, sekitar Gunung Anti dan Gunung Pandang. Letusan ini berakhir dengan aliran lava. Pada 1905, terjadi letusan dari tiga titik baru yang kemudian dikenal dengan Kawah Batur I, Batur II, dan Batur III. Letusan-letusan tersebut menghasilkan aliran lava ke arah selatan, barat daya, dan barat.

Sampai dengan 1925 letusan terjadi silih berganti dari ketiga kawah baru tersebut dengan masa istirahat antara 2 – 3 tahun. Pada 2 Agustus 1926, terjadi letusan magmatik selama sebulan. Letusan berakhir pada 21 September dan menghasilkan leleran lava. Desa Batur yang berada di dasar kaldera tertimbun lava. Sebanyak 2.000 orang penduduk selamat diungsikan.

aktivitas gunung batur

Relief kaldera Gunung Batur

Setelah masa istirahat selama hampir 40 tahun, pada 5 September 1963 terjadi letusan efusif yang berlangsung hingga 10 Mei 1964. Letusan ini terjadidari tiga titik letusan. Titik letusan I, ada di bawah Kawah Batur III dan menghasilkan lava yang mengalir ke arah barat seluas 1.285.250 m2 dan ke arah barat daya menutupi areal seluas 4.324.750 m2. Titik letusan II, lava keluar dari celah kepundan lama di Puncak Gunung Butus, sebelah barat Gunung Batur. Lava mengalir ke arah barat hingga ke Yehmampeh dan menutupi areal seluas 188.550 m2. Titik letusan III, lava keluar dari kaki Gunung Butus sebelah barat dan mengalir ke arah barat di tepi kaldera dekat Desa Latengaya. Luas areal yang ditutupi lava 169.000 m2.

Pada 18 Agustus 1965, terjadi letusan abu. Setahun kemudian, pada 28 April 1966 letusan terjadi lagi di Titik 1965. Tiga tahun kemudian, pada 23 Januari 1968, serangkaian letusan yang berlangsung agak panjang hampir sebulan lamanya. Letusan terjadi di Titik 1963 dan menghasilkan leleran lava ke arah selatan dan berhenti pada ketinggian 1.100 m dpl. Luas area yang terlanda seluas 670.000 m2.

Sejak awal 1970 sampai dengan pertengahan 1971 terjadi letusan abu. Aktivitas yang berlangsung lama ini berakhir dengan letusan tipe stromboli. Tiga
tahun kemudian, pada Maret 1974 terjadi letusan efusif. Lava mengalir ke arah barat hingga Kampung Yehmampeh. Antara periode 1994/1995 sampai dengan tahun 2003 Gunung Batur meletus sebanyak 5 kali, yaitu antara tahun 1994 hingga 1995. Letusan berikutnya terjadi pada tahun 1997, 1998, 1999, dan
tahun 2000.

Letusan yang terjadi pada 1998 membentuk kawah baru yang dikenal dengan Kawah 98. Demikian juga dengan letusan yang berlangsung pada Mei 1999 terjadi di titik baru antara Kawah Batur III dan Kawah 98. Di akhir letusan, pematang Kawah 98 runtuh kemudian bersatu dengan titik letusan yang baru terbentuk dan dikenal dengan Kawah 99.

Penulis adalah ahli gunung api.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>