Salah satu sudut dari pemandangan di Pulau Menjangan, terlihat beberapa pegununungan yang membentang luas di Pulau Jawa. Foto:
Chandrika Sasmita.

Pulau Menjangan Surga Tersembunyi di Utara Pulau Bali

Gedung Kantor BPKB Yogyakarta
yang roboh miring diguncang
gempa. Foto: Danny Hilman N.

Misteri Patahan Sumber Gempa Yogya 2006

27/05/2016 Comments (0) Artikel Geologi Populer, Artikel Geologi Populer

10 Tahun Gempa Yogyakarta

Dari kiri - kanan (searah jarum jam): 1. Kerusakan kampus STIE
kerjasama di Kota Yogyakarta akibat gempa tanggal 27 Mei 2006,
2. Longsoran akibat gempa tanggal 27 Mei 2006 di desa Wonolelo,
Kecamatan Plered, Bantul , 3. SD Lowanu di kota Yogyakarta roboh
akibat gempa tanggal 27 Mei 2006, 4. Retakan tanah sepanjang
± 2.900 meter berarah barat – timur di Kecamatan Gantiwarno,
Klaten akibat gempa tanggal 27 Mei 2006, 5. Kerusakan jembatan
di daerah Gantiwarno, Klaten akibat gempa tanggal 27 Mei 2006,
6. Rumah penduduk roboh akibat gempa tanggal 27 Mei 2006 di
zona Sesar Opak. Lokasi dusun Guyangan, desa Wonolelo, Plered,
Bantul. Foto: Supartoyo, 2006.
Dari kiri - kanan (searah jarum jam): 1. Kerusakan kampus STIE kerjasama di Kota Yogyakarta akibat gempa tanggal 27 Mei 2006, 2. Longsoran akibat gempa tanggal 27 Mei 2006 di desa Wonolelo, Kecamatan Plered, Bantul , 3. SD Lowanu di kota Yogyakarta roboh akibat gempa tanggal 27 Mei 2006, 4. Retakan tanah sepanjang ± 2.900 meter berarah barat – timur di Kecamatan Gantiwarno, Klaten akibat gempa tanggal 27 Mei 2006, 5. Kerusakan jembatan di daerah Gantiwarno, Klaten akibat gempa tanggal 27 Mei 2006, 6. Rumah penduduk roboh akibat gempa tanggal 27 Mei 2006 di zona Sesar Opak. Lokasi dusun Guyangan, desa Wonolelo, Plered, Bantul. Foto: Supartoyo, 2006.

Dari kiri – kanan (searah jarum jam): 1. Kerusakan kampus STIE kerjasama di Kota Yogyakarta akibat gempa tanggal 27 Mei 2006, 2. Longsoran akibat gempa tanggal 27 Mei 2006 di desa Wonolelo, Kecamatan Plered, Bantul , 3. SD Lowanu di kota Yogyakarta roboh akibat gempa tanggal 27 Mei 2006, 4. Retakan tanah sepanjang ± 2.900 meter berarah barat – timur di Kecamatan Gantiwarno, Klaten akibat gempa tanggal 27 Mei 2006, 5. Kerusakan jembatan di daerah Gantiwarno, Klaten akibat gempa tanggal 27 Mei 2006, 6. Rumah penduduk roboh akibat gempa tanggal 27 Mei 2006 di zona Sesar Opak. Lokasi dusun Guyangan, desa Wonolelo, Plered, Bantul. Foto: Supartoyo, 2006.

Sepuluh tahun yang lalu, tepatnya pada hari Sabtu Wage tanggal 27 Mei 2006 pukul 05.54.01 WIB, bumi Yogyakarta dan Jawa Tengah diguncang gempa bumi (gempa) yang kuat yang berpusat di darat. BMKG mencatat kekuatan gempa ini 5,9 SR, sedangkan USGS mencatat kekuatannya 6,2 Mw. Gempa sangat mengagetkan masyarakat Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah, karena pada saat yang bersamaan, Pemerintah Daerah dan masyarakat sedang fokus pada upaya mitigasi letusan gunung Merapi yang aktivitasnya meningkat.

Gempa Yogyakarta (Yogya) 2006 telah mengakibatkan bencana. Lebih dari 5.000 orang meninggal, kerugian harta benda yang besar, dan banyak kerusakan lingkungan. Sejumlah retakan tanah, likuifaksi, dan longsoran terjadi di wilayah Yogyakarta yang menandakan guncangan gempa cukup kuat. Daerah Bantul mengalami bencana terparah, sehingga gempa 27 Mei 2006 dapat pula disebut sebagai “Gempa Bantul 2006”. Gempa Yogya 2006 adalah salah satu gempa dengan korban terbanyak di Indonesia sejak 1612.

Gempa Yogya 2006, kembali menyadarkan kita akan pentingnya upaya mitigasi, baik mitigasi struktural atau fisik maupun non struktural atau non fisik. Upaya mitigasi tersebut harus dilakukan secara terus menerus yang bertujuan untuk meminimalkan risiko bencana gempa dan tsunami di wilayah Yogyakarta yang mungkin akan terulang di kemudian hari. Termasuk upaya mitigasi non fisik, yaitu sosialisasi dan penyampaian data serta informasi seputar bahaya dan dampak gempa agar masyarakat tidak mengalami kepanikan dan tidak mengikuti isu yang tidak jelas sumbernya pada saat kejadian gempa.

Geologi dan Tektonik
Daerah Yogya merupakan bagian dari lempeng benua Eurasia yang terletak dekat dengan zona subduksi atau penunjaman yang terbentuk akibat tumbukan antara Lempeng Benua Eurasia dan Lempeng Samudra Indo – Australia yang telah berlangsung sejak Jaman Kapur Akhir (sekitar 65 juta tahun yang lalu) dan masih berlangsung hingga kini. Lempeng Benua Eurasia bergerak relatif ke arah selatan – tenggara dengan kecepatan ± 0,4 cm/tahun dan Lempeng Samudra Hindia – Australia bergerak relatif ke arah utara dengan kecepatan ± 7 cm/tahun. Tumbukan yang berarah tegak lurus ini menghasilkan palung atau zona subduksi, cekungan muka, jalur magmatisme yang selanjutnya membentuk jalur gunung api (termasuk Gunung Merapi), cekungan belakang, dan pola struktur geologi. Zona subduksi terletak di selatan daerah Yogyakarta yang berjarak sekitar 256 km dari Pantai Parangtritis.

Rumah penduduk roboh akibat gempa tanggal 27 Mei 2006 di daerah Gantiwarno, Kabupaten Klaten. Foto: Supartoyo.

Rumah penduduk roboh akibat gempa tanggal 27 Mei 2006 di
daerah Gantiwarno, Kabupaten Klaten. Foto: Supartoyo.

Sebagian besar wilayah Yogyakarta merupakan dataran yang tertutup oleh endapan rombakan gunung api muda hasil kegiatan gunung Merapi. Bagian lainnya tertutup oleh endapan aluvium. Hal ini menjadikan sebagian besar wilayah Yogyakarta memiliki tanah yang subur dan air yang melimpah, sehingga pemukiman dan aktivitas penduduk terkonsentrasi di sini. Pada bagian barat, yaitu daerah Kulon Progo, dataran ini berubah menjadi perbukitan. Dataran tinggi Jonggrangan (± 750 m dpl.) merupakan tempat tertinggi di wilayah ini. Perbukitan ini terkikis oleh sejumlah sungai yang membentuk serangkaian lembah radial. Di beberapa tempat, terdapat air terjun yang tingginya mencapai ± 30 m. Bagian timur, yaitu daerah Wonosari, merupakan perbukitan kars bagian dari Kars Gunung Sewu.

Batuan yang menyusun wilayah Yogyakarta pada umumnya berupa endapan Kuarter yang tersusun dari endapan rombakan gunung api muda dan endapan alluvial, dan batuan sedimen Tersier. Endapan rombakan gunung api dihasilkan oleh erupsi gunung api, khususnya Gunung Merapi. Secara umum batuan hasil erupsi gunung api ini berupa abu vulkanik, tuf, lava, breksi vulkanik, breksi andesit dan agglomerat. Batuan vulkanik lainnya banyak didapatkan di sekitar wilayah Yogyakarta sebagai hasil erupsi Gunung Tidar, Puser, Balak, Candikukuh, Merbabu, Sumbing dan Merapi. Endapan aluvium terdiri-dari material lepas berupa kerakal, pasir, lanau dan lempung sepanjang sungai besar dan dataran pantai. Batuan sedimen Tersier yang menempati wilayah Yogyakarta, terdiri – dari batugamping, batugamping koral, batupasir gampingan, batupasir napalan, batupasir, konglomerat, napal tufan dengan sisipan tuf kaca. Batuan sedimen Tersier tersebut terdapat pada bagian barat yaitu daerah Kulom Progo dan bagian tenggara yaitu daerah Wonosari.

Pola struktur geologi yang berkembang merupakan hasil interaksi antara Lempeng Samudra Hindia – Australia dan Lempeng Benua Eurasia. Berdasarkan peta geologi lembar Yogyakarta oleh Raharjo dkk. (1995), terlihat bahwa struktur geologi utama berupa sesar berarah timur laut – barat daya yang merupakan jalur Sesar Opak. Sesar lainnya terdapat di daerah Gunung Kidul dan Kulon Progo. Struktur geologi lainnya berupa lipatan yang terdapat secara lokal di daerah Kulon Progo yang terdapat pada batupasir napalan (Formasi Sentolo) berarah timur timur laut – barat barat daya.

Kerusakan rumah penduduk akibat proses likuifaksi atau pelulukan di Paseban, Bayat, Klaten. Foto: Supartoyo, 2006.

Kerusakan rumah penduduk akibat proses likuifaksi atau pelulukan
di Paseban, Bayat, Klaten. Foto: Supartoyo, 2006.

Kegempaan
Yogyakarta merupakan wilayah rawan gempa dan tsunami. Sumber gempa di wilayah ini terletak di laut dari zona subduksi dan di darat dari sesar aktif. Disamping itu, terdapat sebaran gempa yang terletak pada bagian atas dari zona subduksi atau dikenal juga zona interplate, yaitu zona prismatik akresi (accretionary prism zone). Gempa ini dicirikan oleh posisi pusat gempa yang terletak di laut namun dengan kedalaman yang dangkal. Sumber gempa dari zona Benioff kadang-kadang juga terjadi di daerah ini.

Sumber gempa di darat telah teridentifikasi berasal dari Sesar Opak. Inilah sesar atau patahan yang dianggap sebagai penyebab gempa Yogya 2006. Berdasarkan sebaran kegempaan, mungkin terdapat sesar aktif lainnya selain sesar Opak. Menurut Irsyam dkk. (2010), magnitudo maksimum gempa yang bersumber dari zona subduksi adalah 8,1 Mw, sedangkan sesar Opak adalah 6,8 Mw. Dapat dibayangkan apabila gempa bersumber dari sesar Opak mencapai 6,8 Mw, tentu akan menimbulkan bencana yang sangat dahsyat.

Berdasarkan catatan sejarah kejadian gempa merusak dari Supartoyo dkk. (2014) ditambah dengan kejadian tahun 2015, daerah Yogyakarta paling tidak pernah mengalami sebanyak tujuh kejadian gempa merusak. Satu kejadian diduga mengakibatkan terjadinya tsunami, yaitu gempa tahun 1840. Kejadian gempa merusak tahun 1943, 2006 dan 2010 diperkirakan bersumber dari sesar Opak.

Gempa Yogya 2006
Catatan Gempa Yogya yang terjadi pada 27 Mei 2006 pukul 05.54.01 WIB, diperoleh dari stasiun BMKG, USGS, dan stasiun milik Balai Penyelidikan dan
Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK), Yogyakarta. Data dari BPPTK ini selanjutnya dianalisis oleh Tim Tanggap Darurat Badan Geologi (TTD BG). USGS mencatat bahwa pusat gempa tersebut terletak pada koordinat 8,01oLS & 110,29oBT pada kedalaman 17,2 km, kekuatan 6,2 Mw, dan intensitas kerusakan VII MMI. Menurut BMKG, gempa berpusat pada 7,89oLS & 110,37oBT dan kedalaman 40 km, dengan besaran 6,2 Mw, dan intensitas VII MMI. Sedangkan menurut TTD BG, gempa berpusat pada 8,08oLS & 110,31oBT, kedalaman 33 km, dengan besaran 5,8 SR dan skala intensitas VII MMI.

Berdasarkan data mekanisme sumber (focal mechanism) dari USGS, kejadian gempa 2006 ini diakibatkan oleh sesar mendatar (strike slip) dengan kedudukan N 231o E, Dip 87o dan slip 3o. Analisis seismotektonik memperlihatkan bahwa sesar ini merupakan sesar mendatar mengiri (sinistral strike slip fault). TTD BG melakukan pemantauan gempa susulan dengan memasang sebanyak tiga unit seismograf (portable seismograph), yaitu di Parang Tritis, Prambanan dan Catur Tunggal Kota Yogyakarta. Berdasarkan pantauan tersebut serta data dari stasiun pemantau Gunung Merapi BPPTK, Gempa Yogya 2006 ini memang diikuti oleh serangkaian gempa susulan yang masih dapat dirasakan oleh masyarakat Yogyakarta, khususnya Bantul, hingga satu bulan setelah gempa utama.

Hasil analisis atas data pemantauan gempa susulan memperlihatkan bahwa jumlah dan kekuatan gempa susulan semakin mengecil, yaitu
sebanyak 176 kali pada 27 Mei 2006, 126 kali pada 28/05/2006, 79 kali (29/05/2006), 48 kali (30/05/2006), 21 kali (31/05/2006), 10 kali (01/06/2006), 20 kali (02/06/2006), 26 kali (03/06/2006), 14 kali (04/06/2006), 12 kali (05/06/2006), 16 kali (07/06/2006), 13 kali (08/06/2006), 18 kali (09/06/2006), 7 kali (10/06/2006), dan 11 kali (11/06/2006). Hasil perhitungan waktu tiba gelombang s – p berkisar antara 3 – 6 detik. Ini mengindikasikan bahwa sumber gempa susulan masih berada tidak jauh dari stasiun pemantau gempa yang dipasang TTD BG dan berada di darat sepanjang zona sesar Opak.

Kejadian Gempa Yogya 2006 telah mengakibatkan bencana di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah, khususnya Kabupaten Bantul, Sleman, dan Klaten. Korban jiwa tercatat lebih dari 5.700 orang, yang sekitar 1.000 orang terdapat di Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Ribuan orang mengalami lukaluka, ribuan bangunan (rumah penduduk, kantor, took, dll) roboh dan mengalami kerusakan. Dampak geologi yang dapat diamati di permukaan tanah berupa retakan tanah, likuifaksi dan longsoran.

Katalog gempa bumi merusak wilayah Yogyakarta.

Katalog gempa bumi merusak wilayah Yogyakarta.

Retakan tanah, baik pendek maupun panjang, dapat diamati di Bantul, Sleman, dan Klaten. Pola retakan berarah N 250o – 260o E, N 70o – 100o E, dan N 175o – 180o E. Beberapa lokasi retakan tanah yang diamati dan diukur adalah: (1) Kelurahan Sanggrahan, Kecamatan Prambanan berarah N 260o E, panjang ± 10 m; (2) Prambanan berarah N 175o E, panjang ± 4 m; (3) Jembatan Kembang Sari, Kecamatan Piyungan, jalan Parang Tritis, Desa Putren kecamatan Plered dan daerah Lowanu kota Yogyakarta berarah barat – timur, panjang ± 3 -5 m; (4) Desa Grojogan, Kecamatan Banguntapan, Bantul berarah N 0o E, panjang ± 15 m; (5) Desa Kamitan, Kecamatan Bambang Lipuro, Kabupaten Bantul, berarah N 0o E, panjang ± 30 m; (6) Desa Mawen, kecamatan Gantiwarno berarah N 0o E, panjang ± 30 m; dan (8) Kecamatan Gantiwarno yang melewati desa Cendol, desa Kragilan dan desa Gesikan berarah N 70o – 100o E, panjang ± 2.900 m.

Likuifaksi teramati di Kabupaten Bantul, Sleman, dan Klaten yang dicirikan oleh munculnya pasir halus sepanjang retakan tanah, sumur penduduk kering airnya, dan bangunan menjadi miring. Lokasi likuifaksi yang diidentifikasi berada di Kelurahan Sanggrahan, Kecamatan Prambanan, Sleman. Di sini retakan berarah N 270o E. Retkan tanah lainnya terdapat di Desa Sambisari, Kabupaten Sleman; Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten; dan Desa Kembangsari, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul.

Lokasi likuifaksi pada umumnya mempunyai muka air tanah dangkal, antara 1 – 2 m. Kondisi tanahnya tersusun oleh butir pasir halus hingga lanau. Beberapa sumur penduduk di Kota Yogyakarta, Prambanan, Bantul, Maguwoharjo menjadi keruh airnya atau kering akibat nkuatnya guncangan gempa. Gempa juga mengakibatkan terjadinya longsoran berukuran kecil di Kabupaten Bantul, yaitu di Parang Tritis, juga di Desa Bawuran dan Desa Wonolelo, Kecamatan Plered; serta Desa Kamitan, Kecamatan Bambang Lipuro.

Wilayah kerusakan terparah di Yogyakarta adalah Kecamatan Bambang Lipuro, Jetis, Imogori, Plered, Piyungan, Kabupaten Bantul; dan Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman. Sedangkan di Klaten, Jawa Tengah, wilayah kerusakan akibat gempa meliputi Kecamatan Gantiwarno, Bayat, Prambanan, Klaten, sebagian Wedi dan Cawas.

Beberapa bangunan di kota Yogyakarta tak luput dari kerusakan akibat gempa. Sebagian besar korban meninggal karena tertimpa runtuhan bangunan. Di
desa Bawuran, Kecamatan Plered tidak ada bangunan dan rumah penduduk yang dapat ditempati lagi, sekitar 90% bangunan roboh, korban jiwa di desa ini mencapai lebih dari 60 orang. Kerusakan bangunan yang terjadi di wilayah ini umumnya disebabkan oleh tiga faktor, yaitu: (1) lokasi terletak pada atau dekat dengan zona sesar Opak, (2) bangunan berusia tua dan dirancang tidak tahan guncangan gempa bumi, dan (3) terletak pada tanah lunak (endapan rombakan gunung api muda, endapan aluvial dan tanah urug) sehingga guncangan yang terjadi diperkuat (efek amplifikasi).

Peta intensitas gempa Bantul tanggal 27-5-2006 (TTD BG, 2006).

Peta intensitas gempa Bantul tanggal 27-5-2006 (TTD BG, 2006).

Skala Intensitas Gempa
Berdasarkan pengamatan lapangan terhadap respon obyek akibat guncangan gempa, dapat diidentifikasikan bahwa efek guncangan tanah di Kecamatan Bambang Lipuro, Plered, Jetis, Imogiri, Kabupaten Bantul, dan Kecamatan Prambanan Kabupaten Sleman serta Kecamatan Klaten, Kabupaten Klaten yang mencapai skala VII MMI (Modified Mercally Intensity). Hal ini dicirikan oleh: guncangan yang terasa oleh semua orang, termasuk yang berada di dalam kendaraan; barang pecah-belah berjatuhan dan pecah; bangunan tua dan bangunan yang dirancang tidak tahan guncangan gempabumi roboh dan rusak berat; terjadi likuifaksi, retakan tanah, dan longsoran; sumur penduduk keruh, selokan dan saluran irigasi rusak; dan langit-langit dan bagian atas bangunan rusak.

Di Kota Yogyakarta dan Klaten, intensitas gempa mencapai skala VI MMI. Hal ini dicirikan oleh guncangan terasa oleh semua orang baik di dalam maupun di luar rumah dan orang yang sedang berjalan terganggu; masyarakat menjadi panik; pintu dan jendela berderit, mebel bergerak dan terjatuh, barangbarang yang ada di atas meja jatuh, lonceng gereja berbunyi, pohon terlihat bergoyang, sepeda motor yang diparkir terjatuh. Ciri lainnya dari intensitas gempa skala VI MMI adalah sebagian bangunan tua dan bangunan yang dirancang tidak tahan guncangan gempa mengalami kerusakan dan roboh; dan sumur penduduk keruh.

Di wilayah Sleman, Kaliurang, Boyolali, Surakarta, Sukoharjo dan Wonosari, intensitas gempa mencapai skala V MMI. Hal ini sebagaimana dicirikan oleh guncangan gempa yang dapat dirasakan di luar rumah dan orang-orang tidur terbangun, cairan tampak bergerak dan tumpah serta pintu rumah membuka
dan menutup, barang yang kecil dan tak stabil di rumah bergerak atau jatuh, pigura di dinding bergerak, bandul lonceng berhenti atau mati atau tidak cocok jalannya; dan terjadi retakan pada dinding bangunan.

Dari identifikasi lapangan, ternyata wilayah pantai yaitu Samas, Parang Tritis, Sanden, tidak mengalami kerusakan parah, sehingga garis kontur intensitas maksimum (VII MMI) menutup di wilayah pantai (bagian selatan) dan di wilayah Klaten (bagian utara). Dari data intensitas gempa ini dapat disimpulkan
bahwa daerah yang mengalami kerusakan terparah adalah daerah yang tidak jauh dari sumber gempa. Karena itu, dengan mengamati pola intensitas gempa, maka dapat disimpulkan bahwa gempa ini bersumber di darat. Hal ini juga didukung oleh hasil catatan seismogram dari stasiun Gunung Merapi BPPTK Yogyakarta.

Dengan menggunakan persamaan empiris dari Trifunac dan Brady (1975), nilai maksimum percepatan gempa vertikal adalah 0,166 g (gravitasi) dan percepatan gempa horizontal adalah 0,25 g. USGS mencatat nilai maksimum percepatan gempa horizontal adalah 0,24 g. Sebagai perbandingan, Gempa Kobe 1995 di Jepang memiliki nilai maksimum percepatan gempa horizontal 0,4 g yang mengakibatkan kerusakan parah di Kota Kobe.

Kejadian Gempa Yogya 2006 juga mengakibatkan peningkatan kegiatan aktivitas vulkanik Gunung api Merapi, yaitu terjadinya peningkatan jumlah awan panas yang keluar dan jarak luncurnya semakin meningkat. BPPTK mencatat jarak luncur maksimum awan panas mencapai sekitar 7 km yang mengakibatkan korban jiwa sebanyak dua orang relawan.

Pembelajaran Gempa Yogya 2006
Kejadian bencana Gempa Yogya 2006 telah memberikan pelajaran kepada kita terutama berkaitan dengan peningkatan upaya mitigasi bencana gempa di daerah Yogyakarta. Di antara upaya itu adalah identifikasi daerah yang mengalami dampak guncangan gempa, berupa retakan tanah, penurunan tanah, pergeseran tanah, dan likuifaksi. Upaya lainnya adalah belajar dari bangunan yang mampu bertahan dari hantaman gempa sebesar 6,2 Mw, meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan atas ancaman gempa yang mungkin akan terulang kembali di kemudian hari. Setelah kejadian tersebut, maka upaya mitigasi bencana gempa dan juga tsunami (terutama yang bermukim dan beraktivitas di pantai selatan Yogyakarta) menjadi keharusan bagi masyarakat Yogyakarta. Hingga kini para ahli gempa menyimpulkan bahwa penyebab gempa Bantul 2006 itu adalah Sesar Opak. Namun, hingga kini masih belum jelas lokasi garis Sesar Opak itu berada. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemetaan garis Sesar Opak secara rinci.

Upaya mitigasi gempa pada prinsipnya adalah mencegah agar bahaya gempa seperti guncangan gempa, pelulukan atau likuifaksi (liquefaction), retakan tanah, pergeseran tanah, amblesan tanah, dan gerakan tanah atau longsor, tidak menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Upaya mitigasi ini dilakukan secara fisik atau struktural dan nonfisik atau nonstruktural. Upaya mitigasi struktural antara lain dengan melakukan pembangunan fisik yang mampu meredam dampak gempa atau tsunami. Upaya mitigasi nonfisik atau nonstruktural dilakukan antara lain dengan penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Upaya mitigasi nonfisik lainnya adalah memasukkan materi kebencanaan geologi untuk semua tingkatan pendidikan di Yogyakarta. Dengan upaya mitigasi ini diharapkan risiko dari kejadian gempa, juga tsunami, di kemudian hari dapat diminimalkan.

Hingga kini belum ada teknologi yang mampu untuk meramalkan kejadian gempa dengan tepat. Tak ada seorang pun yang mampu memperkirakan dengan tepat baik waktu, tempat atau lokasi, maupun besaran gempa yang akan terjadi. Oleh karena itu, upaya terbaik yang dapat dilakukan adalah mitigasi, baik secara fisik maupun nonfisik. Kedua upaya mitigasi ini harus dilakukan secara bersamaan. ( Supartoyo, Oman Abdurahman, dan Atep Kurnia )

Penulis, Supartoyo adalah Surveyor Pemetaan Madya di PVMBG, Oman Abdurahman adalah Kepala Museum Geologi dan Pemimpin Redaksi Geomagz, Atep Kurnia adalah Peneliti Literasi, tinggal di Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>